PART I
Asalnya sebuah pemikiran, akhirnya mungkin dibaca satu nukilan...
Asalnya sebuah pemikiran, akhirnya mungkin dibaca satu nukilan...
![]() |
| Photo Credit to Mr Google : https://foksal17.pl/obraz/sila-2519 |
Cerita terhasil bukan satu dongengan. Tapi boleh jadi hanya penceritaan suka-suka. Semua yg tercoret adalah satu bingkisan jiwa, mungkin menjadi kisah benar, mungkin juga olahan semata-mata. Terserah.
Terus,
Harus diomong hanya diotak?
Atau,
Madah berbisa berkotak-kotak?
Mudah Solusinya
Biar pena berbicara.
Atau dizaman cyber ini, mungkin mukabuku lambakan jari menaip bisa.
Si pelaku kadang-kadang butuhkan harap dan semangat,
Namun mana mungkin dilayan manusia...
Kira detik hanya senyuman,
Berat hati sakit terpalang,
Kuatkan diri sepanjang jalan,
Cuma rebah berdarah badan
Bukan sekali,
Malah mungkin berjuta jatuhi...
Namun kata dirinya
Bangkitlah diri, kita bisa kuat, jgn biarin mereka lihat dirimu yang rawan...
Bangun... Bangun dan berdiri... berdiri atas kakimu sendiri... bersama senyuman,
Senyuman yg ertinya diantara dua rasa...
Gembira mungkin
Sedih berpaling...
Bila perlukan org sekililing,
Lagikan mereka menyebik dengan terpamer satu perasaan
Iaitu ah, itu hanya dugaan.. perlu kisah ape dikata, lemah saja kalau melayan.
Jauh mereka mengerti, sakitnya petualang bukan kerna si pelaku tiada arah tuju dipandang lemah lalu rebah.
Sakitnya pelaku perlu siapa mahu mengerti.
Mahu salahkan takdir?
Tidak...
Kerna Si Dia yg Esa tu sebaik-baik Pengasih....
Selagi mana pelaku tidak membuka aibnya... lalu disimpan rapi segala ratapan di malam hari.
Mana mungkin lalu dia salahkan takdir.
Liriknya lagu,
Takdir itu buatmu menangis
Ia jugak hantarkan gembira
Harus bagaimana hendak dibenci situasi begitu...
Tidak adil
Lalu tersenyum semula dah berkata...
Halsu isso!!! Umph... Jaebal... Aracci
“Hwaiting” atau “Fighting” atau “Chaiyoo” itu bahasanya mungkin Korea atau China atau Inggeris,
Tapi maksudnya ternyata sama bila dipilis.
Kuatnya semangat bila diuji bertalu-talu,
Tapi si pelaku tetap tersenyum dan berlalu.
Manusia mungkin tidak pernah cuba untuk memahami..
Sedih Marah Menyampah Gembira Ketawa dan Senyum,
Itu topeng hari-hari yang diubah mengikut keselesaan.
Katanya mereka,
Jangan bisa terlalu baik,
Masyarakat tidak perlu cakna.
Jangan bisa terlalu rendah diri,
Masyarakat lihat jelek sekali.
Jangan bisa terlalu menonjol,
Masyarakat tentunya dtg berdengki.
Jangan bisa terlalu jujur,
Masyarakat benci dilihat luhur.
Lalu bagaimana?
Menjadi patung cendana?
Saat butuh semangat diri,
Lalu dipasak
Itu pun tak tahu? Takkan hanya sekali, orang lain bertalu-talu.
Sekali lagi, si pelaku diam membisu,
Hanya senyuman bermain di bibir
Mungkin betul kata cendakiawan,
Tiada manusia yg memahami manusia kecuali Dia Yang Maha Esa.
Lalu si pelaku berkata,
Mungkin kalau bercerita, manusia akan cuba memahaminya.
Tapi si pelaku lupa,
Dia Yang Esa kasihnya luas... tidak ditempelak walaupun sebusuk getah kering di dlm tempayan.
Yang mana manusianya lain kesimpulan.
Terus menyampah, lalu ditebarkan segalanya.
Dengan alasan,
......................
yg tiada siapa perasan.
Lalu si pelaku tidak dapat menulis kesimpulan.
Tiba-tiba dia tersedar
Ya Allah, bukan salah mereka, tapi kedua duanya si pelaku dan manusia diuji sedemikian rupa..
Masakan bisa lupa,
Tapi kapan manusia senantiasa beringat
Diberi nikmat kadangnya berpisat
Diberi kesusahan kadangnya terdetik.
Lalu
Allah tersenyum.
Kerana dia sedar,
Dicipta hambanya utk mengenal dunia.
Bila diketahui dan yakin ianya hanya sementara.
Baru mereka kelam kabut mencari pahala.
Yang kekal hanya akhirat di sana.
Dan perjalanan itu adalah berseorangan.
Bukan berpimpin tangan meredah segala.
Lots Of Love,
🥰

No comments:
Post a Comment